Senin, 12 Januari 2015

From Now On and Forever



Malam ini adalah malam berbintang. Disebut demikian karena tidak ada satupun awan pekat menghalangi. Ribuan bintang berkerlap-kerlip menghiasi langit, mengiringi bulan purnama. Begitu indahnya sampai-sampai bunga taman ingin menggapainya.
Sekarang, aku memandang semuanya dari taman bunga. Menikmati pemandangan luar biasa ini sendirian sambil menunggu seseorang dengan tak tenang. Aku duduk di kursi lengkap dengan meja santainya, juga secangkir teh berkualitas tinggi.
Kegiatan ini akan menyenangkan jika dilakukan di ruangan terbuka seperti di balkon, atau di tengah taman bunga. Namun bisa juga terasa membosankan jika kegiatan ini dilakukan sambil menunggu kepastian.
“Kok lama banget sih dia?! Katanya kita ketemuan jam 7 malam ini. Ini sih namanya nunggu ketidakpastian,”
Aku ingat bahwa Rin, seorang gadis yang bekerja sebagai maid pribadiku, berkata ‘Dia ingin bertemu denganmu jam 7 malam nanti’. Tapi ketika aku mengambil sebuah jam saku di kantung gaunku, meniliknya dalam keresahan, jam itu menunjukkan pukul 7.15 waktu malam—selisih waktu 15 menit lebih lama dari yang dijanjikan.
Mencoba sedikit bersabar mengenainya, aku sekali lagi memandang keindahan langit sambil menyesap teh.
Jauh di angkasa sana, ribuan bintang berkerlap-kerlip menghiasi angkasa. Sebuah kabut menyerupai pita berwarna putih susu membentang luas, membagi langit menjadi dua sebatas garis horison yang bercahaya. Aku dapat memandang semuanya dengan jelas di taman bunga atas puncak bukit termasuk pemandangan dataran rendah yang gelap sekali, yang dimana hanya ada beberapa titik tiang lampu jalanan. Yah . . . bagaimanapun juga hal seperti itu telah sedikit menenangkan hatiku ini.
Waktu cepat berlalu. Sekali lagi aku menilik jam saku yang terbuat dari emas murni ini. Sudah pukul 7.25 waktu malam. Itu membuatku berasumsi bahwa dia sudah tidak akan datang malam ini. Aku memutuskan untuk meninggalkan tempat ini setelah menghabiskan tehku.
Hanya saja ketika aku beranjak, angin sepoi-sepoi bertiup lembut seolah-olah menghentikanku. Di depan sana ada siluet tubuh yang sangat kukenal, berjalan mendekati.
“Nona . . . Éclairé . . .”
Dia telah datang.
Sebuah ucapan penuh keraguan terdengar. Bagaimanapun juga, aku mengakui keberadaan pemilik suara ini secara singkat.
Jantungku terasa berhenti berdetak. Suara itu, suara yang selalu kudengar setiap hari, suara dari masa lalu yang menyenangkan.
Pemilik dari siluet tubuh tersebut, memanggilku dengan sebuah sebutan untuk bangsawan muda. Ya, aku memang seorang bangsawan muda, putri dari konglomerat wilayah Kerajaan Perancis. Berkat itu, aku bersekolah, menikmati fasilitas berkelas, juga membeli apapun atau melakukan apapun yang kumau.
Dia sendiri bekerja dibawah perintahku, atau bisa juga dibilang butler dalam istilah bahasa inggris—pelayan pribadiku satu-satunya yang kupedulikan.
“Allen, kau pikir berapa lama aku sudah menunggumu? Kalau bengini, aku bisa kedinginan, tahu!”
Selagi mengernyitkan dahi, aku menyingkirkan rambutku yang tergerai tertiup angin dari penglihatan.
“Maaf, Nona! Tadi saya baru saja mengalami kecelakaan kecil,”
Sesekali Allen memandangku dengan penuh kecemasan, aku menempatkan kedua tanganku di pinggang. Setelah itu, dia terlihat gemetaran. Aku berhasil membuatnya takut.
“Ah . . . Éclairé . . . Ya . . . Éclairé,”
Aku terus mempertajam mataku.
“Jangan melototiku seperti itu, dong!”
“Huuh . . . setiap hari bukannya meringankan beban kerja, malah merepotkanku terus-terusan. Apalagi sudah kubilang kalau aku suruh kamu memanggilku dengan sebutan nama saja,”
“Anu . . . kalau manggil tanpa ‘Nona’ rasanya agak aneh mengingat peran saya lebih rendah daripada Nona . . . Ah, maksudnya Éclairé,”
“Itu karena kamu lebih nganggap aku sebagai majikan daripada teman,”
Aku masih sedikit marah padanya. Aku mendesah kecewa dan berkata—
“Tau ga’ sih kalau aku sudah nganggap kamu sebagai temanku, meskipun umur kita terpaut 2 tahun dan berbeda kalangan,”
Tapi perasaan itu berangsur menghilang dari hati. Diganti dengan rona merah yang menempel di pipiku.
"Lalu kenapa kau memanggilku?"
Seiring dengan keluarnya kalimat tanya itu dari mulutku, Allen memperlihatkan permulaan dari persiapan mentalnya, berdeham dan membenahi penampilannya yang menurutnya kurang sempurna. Aku rasa dia sedikit gugup.
"Anu . . . sebenarnya . . . ada yang ingin saya sampaikan, Nona Éclairé!"
Allen masih mengundangku dengan nama gelar bangsawan muda lagi. Tapi aku memakluminya, mungkin saja dia belum terbiasa.
"Teruskan saja!"
Aku mengizinkannya.
Dalam sekejap, suasana menjadi hening, hening yang berbeda dari hening yang biasanya. Bayangkan saja jika sepasang manusia berdiam diri di tempat romantis seperti di sini. Diperhitungkan juga dengan dekatnya hubungan.
Angin sepoi-sepoi bertiup kembali, menerbangkan seladang benih bunga dandelion. Hal itu membuat kami semakin canggung.
Kami saling bertatapan secara langsung dari tadi, tanpa mengeluarkan sepatah katapun diantara kami. Dan saat itu juga aku merasakan sesuatu yang pernah dialami.
Akhir-akhir ini, aku merasa sesuatu yang aneh bila bersamanya. Setiap kali kami berduaan dalam satu ruangan, hatiku terasa 'sakit'. Setiap kami saling bertatapan, aku ingin melihat wajah miskinnya selamanya. Seperti saat ini.
Pandangannya, secara berani, langsung mengarah kepadaku. Kulihat matanya bersinar merah memantulkan cahaya bulan, mengandung kenginan kuat darinya. Aku sedikit tersipu olehnya.
Aku yakin sekali dia juga merasakannya. Lihatlah, dia membiarkan dirinya sendiri untuk menghela nafas sesaat sebelum wajahnya kembali tegas dengan pipinya yang berselimutkan warna kemerahan dan bekata—
"Sebenarnya, saya telah lama jatuh hati pada anda,"
Dan otomatis aku terkaget-kaget.
“Ah!”
Jantungku terasa berdegup lebih kencang daripada yang biasanya. Semua darahku mengalir ke wajahku, ketika mendengar pernyataan cinta darinya untukku. Aku tidak menyangka akan tujuannya ini sama sekali. Aku kira dia akan membahas sesuatu yang menarik untuk dibicarakan, curhat tentang kehidupannya. Lagipula yang kupedulikan adalah hubungan kami yang mengalami kemajuan baru-baru ini.
"Berikan aku waktu!"
Allen mengangguk pelan tanda setuju.
Dalam keadaan panik, aku memejamkan mata, mengepalkan tangan di depan dada. Aku ingin melihat isi lubuk hatiku, yakin sekali kalau jawaban yang sebenarnya ada di sana, jawaban dari pertanyaan ‘Apakah aku juga mencintainya?’.
Dulu, sekitar 3 tahun lalu, Allen muncul di hadapanku, sebagai pelayan rampasan (bukan budak rampasan). Istilah itu digunakan untuk para pembantu yang direbut dari bangsawan yang kalah dalam suatu kudeta atau suatu revolusi kerajaan melalui sebuah perjanjian.
Pada mulanya perasaanku padanya hanya sebatas kasihan saja, karena penampilannya yang sangat kacau itu. Selanjutnya, dia memerhatikanku, semakin lama semakin dia memerhatikanku, membuatku menjadi seperti saat ini.
Aku bingung sendiri ketika dihadapkan oleh satu pertanyaan rumit. Apakah aku juga jatuh cinta padanya? Atau hanya merasa kasihan saja?
Apa-apaan dengan pertanyaan itu! Kenapa pertanyaan itu ada di bumi ini? Aku tidak mengerti akan hal itu sama sekali.
Aku terus berusaha menemukan jawabannya sambil mencocokkan beberapa rumusan hipotesa di otakku. Debaran ini, perasaan yang membuatku bahagia seketika ini, perasaan malu saat si dia mendekatkan diri ini. Ya, tak salah lagi, ini pasti—
Cinta
Aku menatapnya sekali lagi, menatap mukanya sekali lagi. Di sana terdapat raut kemantapan hatinya. Dia sungguh-sungguh serius terhadap pernyataan cintanya. Saat itulah, aku mempunyai hasrat ingin menjawabnya, seketika.
“Aku . . . juga . . . belakangan ini memerhatikanmu secara diam-diam. Ya, aku juga mencintaimu, sejak lama,”
Aku juga tidak pernah memikirkan kapan aku mengungkapkan perasaanku padanya. Tapi sekarang, gejolak di hatiku ini, aku ingin mengobatinya, menukarnya dengan satu sentuhan. Aku melangkah ke depan, merentangkan tangan kananku dan berkata—
“Tapi, bersumpahlah! Kau tak akan pergi dariku untuk selamanya, Allen!”
Dia, pembantu laki-lakiku yang berharga itu, yang bernama Allen itu, meraih tangan kananku dengan lembut. Lalu menciumnya dengan lembut juga, seperti halnya bunga dandelion yang terus menemani angin malam.
Senyumannya, laksana sinar rembulan yang menghangatkan di waktu malam hari.
“Ya, Éclairé. Aku bersumpah setia, aku akan menemanimu, untukmu, dari sekarang dan untuk selamanya,”




From Ganang Perdana Wahyu Utomo