Malam
ini adalah malam berbintang. Disebut demikian karena tidak ada satupun awan
pekat menghalangi. Ribuan bintang berkerlap-kerlip menghiasi langit, mengiringi
bulan purnama. Begitu indahnya sampai-sampai bunga taman ingin menggapainya.
Sekarang,
aku memandang semuanya dari taman bunga.
Menikmati pemandangan luar biasa ini sendirian sambil menunggu seseorang dengan
tak tenang. Aku duduk di kursi lengkap dengan meja santainya, juga secangkir
teh berkualitas tinggi.
Kegiatan
ini akan menyenangkan jika dilakukan di ruangan terbuka seperti di balkon, atau
di tengah taman bunga. Namun bisa juga terasa membosankan jika kegiatan ini
dilakukan sambil menunggu kepastian.
“Kok
lama banget sih dia?! Katanya kita ketemuan jam 7 malam ini. Ini sih namanya nunggu ketidakpastian,”
Aku
ingat bahwa Rin, seorang gadis yang bekerja sebagai maid pribadiku, berkata
‘Dia ingin bertemu denganmu jam 7 malam nanti’. Tapi ketika aku mengambil
sebuah jam saku di kantung gaunku, meniliknya dalam keresahan, jam itu
menunjukkan pukul 7.15 waktu malam—selisih waktu 15 menit lebih lama dari yang
dijanjikan.
Mencoba
sedikit bersabar mengenainya, aku sekali lagi memandang keindahan langit sambil
menyesap teh.
Jauh
di angkasa sana, ribuan bintang berkerlap-kerlip menghiasi angkasa. Sebuah kabut
menyerupai pita berwarna putih susu membentang luas, membagi langit menjadi dua
sebatas garis horison yang bercahaya. Aku dapat memandang semuanya dengan jelas
di taman bunga atas puncak bukit
termasuk pemandangan dataran rendah yang gelap sekali, yang dimana hanya ada
beberapa titik tiang lampu jalanan. Yah . . . bagaimanapun juga hal seperti itu
telah sedikit menenangkan hatiku ini.
Waktu
cepat berlalu. Sekali lagi aku menilik jam saku yang terbuat dari emas murni
ini. Sudah pukul 7.25 waktu malam. Itu membuatku berasumsi bahwa dia sudah
tidak akan datang malam ini. Aku memutuskan untuk meninggalkan tempat ini
setelah menghabiskan tehku.
Hanya
saja ketika aku beranjak, angin sepoi-sepoi bertiup lembut seolah-olah
menghentikanku. Di depan sana ada siluet tubuh yang sangat kukenal, berjalan
mendekati.
“Nona
. . . Éclairé . . .”
Dia
telah datang.
Sebuah
ucapan penuh keraguan terdengar. Bagaimanapun juga, aku mengakui keberadaan
pemilik suara ini secara singkat.
Jantungku
terasa berhenti berdetak. Suara itu, suara yang selalu kudengar setiap hari,
suara dari masa lalu yang menyenangkan.
Pemilik
dari siluet tubuh tersebut, memanggilku dengan sebuah sebutan untuk bangsawan
muda. Ya, aku memang seorang bangsawan muda, putri dari konglomerat wilayah Kerajaan Perancis. Berkat itu, aku bersekolah, menikmati fasilitas berkelas, juga membeli
apapun atau melakukan apapun yang kumau.
Dia
sendiri bekerja dibawah perintahku, atau bisa juga dibilang butler dalam istilah bahasa inggris—pelayan
pribadiku satu-satunya yang kupedulikan.
“Allen,
kau pikir berapa lama aku sudah menunggumu? Kalau bengini, aku bisa kedinginan,
tahu!”
Selagi
mengernyitkan dahi, aku menyingkirkan rambutku yang tergerai tertiup angin dari
penglihatan.
“Maaf,
Nona! Tadi saya baru saja mengalami kecelakaan kecil,”
Sesekali
Allen memandangku dengan penuh kecemasan, aku menempatkan kedua tanganku di
pinggang. Setelah itu, dia terlihat gemetaran. Aku berhasil membuatnya takut.
“Ah
. . . Éclairé . . . Ya . . . Éclairé,”
Aku
terus mempertajam mataku.
“Jangan
melototiku seperti itu, dong!”
“Huuh
. . . setiap hari bukannya meringankan beban kerja, malah merepotkanku
terus-terusan. Apalagi sudah kubilang kalau aku suruh kamu memanggilku dengan
sebutan nama saja,”
“Anu
. . . kalau manggil tanpa ‘Nona’ rasanya agak aneh mengingat peran saya lebih
rendah daripada Nona . . . Ah, maksudnya Éclairé,”
“Itu
karena kamu lebih nganggap aku sebagai majikan daripada teman,”
Aku
masih sedikit marah padanya. Aku mendesah kecewa dan berkata—
“Tau
ga’ sih kalau aku sudah nganggap kamu sebagai temanku, meskipun umur kita
terpaut 2 tahun dan berbeda kalangan,”
Tapi perasaan itu berangsur menghilang dari hati. Diganti dengan rona merah
yang menempel di pipiku.
"Lalu
kenapa kau memanggilku?"
Seiring
dengan keluarnya kalimat tanya itu dari mulutku, Allen memperlihatkan permulaan
dari persiapan mentalnya, berdeham dan membenahi penampilannya yang menurutnya
kurang sempurna. Aku rasa dia sedikit gugup.
"Anu . . . sebenarnya . . . ada yang ingin saya sampaikan, Nona Éclairé!"
Allen
masih mengundangku dengan nama gelar bangsawan muda lagi. Tapi aku memakluminya, mungkin
saja dia belum terbiasa.
"Teruskan
saja!"
Aku
mengizinkannya.
Dalam
sekejap, suasana menjadi hening, hening yang berbeda dari hening yang biasanya.
Bayangkan saja jika sepasang manusia berdiam diri di tempat romantis seperti di sini. Diperhitungkan juga dengan
dekatnya hubungan.
Angin
sepoi-sepoi bertiup kembali, menerbangkan seladang benih bunga dandelion. Hal
itu membuat kami semakin canggung.
Kami
saling bertatapan secara langsung dari tadi, tanpa mengeluarkan sepatah katapun
diantara kami. Dan saat itu juga aku merasakan sesuatu yang pernah dialami.
Akhir-akhir
ini, aku merasa sesuatu yang aneh bila bersamanya. Setiap kali kami berduaan
dalam satu ruangan, hatiku terasa 'sakit'. Setiap kami saling bertatapan, aku
ingin melihat wajah miskinnya selamanya. Seperti saat ini.
Pandangannya,
secara berani, langsung mengarah kepadaku. Kulihat matanya bersinar merah
memantulkan cahaya bulan, mengandung kenginan kuat darinya. Aku sedikit tersipu
olehnya.
Aku
yakin sekali dia juga merasakannya. Lihatlah, dia membiarkan dirinya sendiri
untuk menghela nafas sesaat sebelum wajahnya kembali tegas dengan pipinya yang
berselimutkan warna kemerahan dan bekata—
"Sebenarnya,
saya telah lama jatuh hati pada anda,"
Dan otomatis aku terkaget-kaget.
“Ah!”
Jantungku
terasa berdegup lebih kencang daripada yang biasanya. Semua darahku mengalir ke
wajahku, ketika mendengar pernyataan cinta darinya untukku. Aku tidak menyangka akan tujuannya ini
sama sekali. Aku kira dia akan membahas sesuatu
yang menarik untuk dibicarakan, curhat tentang kehidupannya. Lagipula yang kupedulikan adalah hubungan kami yang mengalami
kemajuan baru-baru ini.
"Berikan
aku waktu!"
Allen
mengangguk pelan tanda setuju.
Dalam
keadaan panik, aku memejamkan mata, mengepalkan tangan di depan dada. Aku ingin
melihat isi lubuk hatiku, yakin sekali kalau jawaban yang sebenarnya ada di
sana, jawaban dari pertanyaan ‘Apakah aku juga mencintainya?’.
Dulu,
sekitar 3 tahun lalu, Allen muncul di hadapanku,
sebagai pelayan rampasan (bukan budak rampasan).
Istilah itu digunakan untuk para pembantu yang direbut dari bangsawan yang
kalah dalam suatu kudeta atau suatu revolusi kerajaan
melalui sebuah perjanjian.
Pada
mulanya perasaanku padanya hanya sebatas kasihan saja, karena penampilannya
yang sangat kacau itu. Selanjutnya, dia memerhatikanku, semakin lama semakin
dia memerhatikanku, membuatku menjadi seperti
saat ini.
Aku
bingung sendiri ketika dihadapkan oleh satu pertanyaan rumit. Apakah aku juga jatuh cinta padanya? Atau hanya
merasa kasihan saja?
Apa-apaan
dengan pertanyaan itu! Kenapa
pertanyaan itu ada di bumi ini? Aku tidak mengerti akan hal itu sama sekali.
Aku
terus berusaha menemukan jawabannya sambil mencocokkan beberapa rumusan hipotesa di otakku. Debaran ini, perasaan yang
membuatku bahagia seketika ini, perasaan malu saat si dia mendekatkan diri ini.
Ya, tak salah lagi, ini pasti—
Cinta
Aku
menatapnya sekali lagi, menatap mukanya sekali lagi.
Di sana terdapat raut kemantapan hatinya. Dia sungguh-sungguh serius terhadap
pernyataan cintanya. Saat itulah, aku mempunyai hasrat ingin menjawabnya,
seketika.
“Aku . . .
juga . . . belakangan ini memerhatikanmu secara diam-diam. Ya, aku juga
mencintaimu, sejak lama,”
Aku juga
tidak pernah memikirkan kapan aku mengungkapkan perasaanku padanya. Tapi
sekarang, gejolak di hatiku ini, aku ingin mengobatinya, menukarnya dengan satu
sentuhan. Aku melangkah ke depan, merentangkan tangan kananku dan berkata—
“Tapi,
bersumpahlah! Kau tak akan pergi dariku untuk selamanya, Allen!”
Dia, pembantu
laki-lakiku yang berharga itu, yang bernama Allen itu, meraih tangan kananku
dengan lembut. Lalu menciumnya dengan lembut juga, seperti halnya bunga
dandelion yang terus menemani angin malam.
Senyumannya,
laksana sinar rembulan yang menghangatkan di waktu malam hari.
“Ya, Éclairé. Aku bersumpah setia, aku akan menemanimu, untukmu, dari sekarang dan untuk selamanya,”
From Ganang Perdana Wahyu Utomo